gonaku


ANTARA NIKMAT ALLAH DAN NALURI MANUSIA MANUSIA SEBAGAI KHALIFATUL ARDHI
September 23, 2010, 4:11 am
Filed under: Uncategorized

IMTAQ

Oleh: A. Syarif S.

“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sunguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

(QS. Al A’rof: 31)

Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang tidak serakah. Setiap individu memiliki keinginan untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam Islam, Allah SWT telah memberi batasan-batasan kepada manusia, diantaranya adalah bab makan dan minum.

Makan dan minum merupakan kebutuhan pokok yang tidak mungkin dihindari oleh manusia. Makanan mengandung zat-zat pembangun tubuh yang berfungsi menghasilkan energi. Sedangkan minuman (air) berkhasiat untuk mengganti cairan tubuh yang berkurang setiap saat kita beraktivitas.

Batasan dan aturan Allah yang telah termaktub dalam Al Qur’an merupakan kewajiban kita untuk menaatinya. Karena tak lain, semua aturan Allah dibuat berdasarkan pertimbangan manfaat dan madlarat terhadap diri manusia dan makhluk seisinya. Adanya syari’at juga berpengaruh kepada makhluk, namun tidak kepada Allah.

Dalam satu hadits diterangkan bahwasanya ketaqwaan dan kedurhakaan manusia tidak akan berpengaruh sedikitpun pada kuasa dan kerajaan Allah, seperti halnya pengaruh air laut terhadap jarum yang dicelupkan ke sana.

Dalam konteks ini, semua aturan Allah adalah tak lain untuk makhluk. Sekarang adalah tinggal bagaimana manusia mengemudikan dirinya, apakah hawa nafunya yang akan menundukkan akal, ataukah akalnya yng secara cerdas mengalahkan hawa nafsu.

Jika dipikir secara logis, nikmat Allah yang hanya sebagian kecil ditiupkan kepada makhluk semesta alam tidak akan pernah habis apabila digrogoti manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sekalipun sampai tujuh turunan. Hal ini menandakan betapa kuasanya Allah dan betapa hinanya manusia.

Untuk itulah, manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna mempunyai tanggung jawab besar tak hanya untuk beribadah dan bertaqwa kepada Allah. Tetapi juga menjaga kelestarian alam dan keseimbangan jagat raya. Maka sepatutnya kita bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkannya. Karena apabila kita bersyukur maka Allah akan mendapatkan nikmatnya.

Adapun perasaan kurang atas nikmat Allah adalah pengaruh hawa nafsu, yang bila kita mengkufurinya, maka bagi kita siksa Allah yang amat pedih.***sun,5-9-10


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: