gonaku


RUKUN SOSIAL, RUKUN TETANGGA BAGAIMANA KALAU SEPERTI MALAYSIA?
September 23, 2010, 4:12 am
Filed under: Uncategorized

IMTAQ

RUKUN SOSIAL, RUKUN TETANGGA

BAGAIMANA KALAU SEPERTI MALAYSIA?

Oleh: A. Syarif S.

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tetangganya.”

(HR. Bukhori Muslim)

Tidaklah Allah menciptakan manusia melainkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya saling mengenal. Dari perkenalan inilah, manusia dituntut untuk bisa menghargai perbedaan sesama agar tercipta satu kesatuan diantara manusia seutuhnya. Sebagian ulama’ berpendapat, tetangga di sini bisa digolongkan muslim tau kafir. Dengan melihat kondisi sekarang ini, tetangga muslim kiranya lebih menarik dibahas, karena merekalah yang mayoritas di sekeliling kita.

Tetangga adalah siapa saja yang dekat dengan kita, tidak sebatas laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin. Termasuk tetangga adalah Negara sebelah kita, Malayia. Walaupun prdikatnya adalah tetangga yang dekat dan serumpun, tetapi banyaknya pelanggaran yang dilakukan Malaysia seakan-akan mengubur kedekatan diantara keduanya, Malaysia dan Indonesia. Memang benar apa yang dikatakan presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono menanggapi konflik diantara dua Negara ini. Banyak yang memaksa SBY untuk bertindak tegas kepada negara tetangga tersebut. Meskipun melihat banyaknya pelanggaran yang telah dilakukan Malaysia, pemimpin bansa itu hanya mengisyaratkan damai dan tidak mengizinkan pertumpahan darah terjadi dari kedua belah pihak.

Firman Allah dan sunnah Rasul mengarahkan supaya kita memenuhi hak–hak tetangga dan tidak memusuhinya. Bahkan lebih dekat lagi, Rasulullah SAW memerintahkan kita supaya memperbanyak kuah makanan (sup) kita. Selain dikonsumsi sendiri, kita juga harus memberikan sebagian kuah tersebut kepada tetangga. Subhanallah, memang tidak mudah menjadi tetangga yang baik. Sabda Nabi SAW: “Tetangga yang baik adalah mereka yang berbuat baik terhadap tetangga.”

Manusia sendiri diciptakan penuh salah dan dosa. Jadi setidaknya, ketika terjadi ketidakharmonisan dengan tetangga, jalan yang terbaik adalah saling memaafkan antara satu dengan yang lain.

Diantara hikmah berbuat baik kepada tetangga adalah kesatuan dan kebersamaan akan semakin kuat dan kokoh. Antara kita dan tetangga akan jadi saling membantu manakala diantara kita mempunyai kesulitan.

Kita akan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial, tidak individualis dan lebih mementingkan urusan rang lain. Nabi SAW berasabda: “Tidak sempurna iman seseorang diantara kita sehingga kita mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri.”

Prinsip-prinsip sosial dalam Islam semakin jelas dengan adanya firman Allah SWT surat AnNisa’ ayat 36:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauj, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Satu hikmah yang lain adalah, kita dituntut untuk menjadi manusia yang humanis dan pluralis, tidak egois, sombong, dan mementingkan diri sendiri. Karena sesunggugnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berperangai seperti itu.***sun,5-9-10


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: